Breaking News

Sebuah Pencapaian: Amanah, Prestasi dan Kebanggaan


Oleh: Anang Amiruddin Nugroho

Dalam sambutan pembuka, yang disampaikan oleh Ayunda Diyah Puspitarini, M.Pd., selaku Ketua Umum Pimpinan Pusat Nasyiatul 'Aisyiyah (PPNA) periode 2016-2020, menyiratkan esensi tentang arti sebuah pencapaian. "Saya bukanlah kader terbaik Nasyiatul Aisyiyah. Namun ketika diberi amanah, dalam janji sebagai kader, tidak ada alasan untuk menolak. Saya atau kami nantinya membutuhkan bantuan dari seluruh pihak, Muhammadiyah, Aisyiyah, dan seluruh NA ..", kata beliau.


Disini ada makna penting yang dapat kita gali, pertama makna dari sebuah amanah, kedua makna dari sebuah prestasi, dan yang ketiga adalah makna dari sebuah kebanggaan. Ketiga makna tersebut, berkaitan erat dengan pencapaian seseorang dalam menapaki langkah demi langkah. Suatu proses yang sudah lama menjadi titik fokus, sehingga secara tidak langsung terjadi upgrade didalam diri.

Pertama adalah makna dari sebuah amanah. Pada hakikatnya amanah adalah beban, amanah adalah tanggung jawab, amanah adalah hal yang harus terselesaikan secara maksimal. Munculnya amanah dikarenakan munculnya kepercayaan orang lain kepada diri kita. Mereka percaya bahwa diri kita mampu untuk menerima sebuah amanah, diri kita mampu untuk diberikan sebuah kepercayaan. Mereka percaya terhadap kompetensi kita, percaya terhadap kapasitas diri kita, percaya pula terhadap konsistensi yang kita miliki.

Namun disini yang perlu untuk ditekankan, amanah tidak hanya terkait dengan pencapaian jabatan pada sebuah organisasi saja, amanah juga berkaitan dengan jabatan dalam suatu sistem birokrasi. Dalam hal ini jabatan tersebut termasuk dalam sistem Pemerintahan walaupun didalamnya terdapat intrik politik sekalipun. Kiranya perlu diluruskan, bahwa partai politik itu mengejar suatu amanah. Maka Partai Politik juga harus ikhlas, oknumnya dilarang main proyek, wajib berlaku adil kepada seluruh pihak terkait, apabila menginginkan amanah tersebut berakhir dengan khusnul khotimah.

Sejatinya amanah memiliki range yang sangat luas. Berisi tentang persetujuan, pemilihan, kepercayaan, tanggung jawab, serta pemasrahan sepenuhnya tentang suatu keadaan. Maka amanah ini wajib dijalankan dengan sebaik-baiknya, dengan penuh keikhlasan dan tanggung jawab.

Memang dalam sebuah amanah terdapat porsi kapasitas yang lebih luas. Dia adalah penentu kebijakan. Segala kebijakan ada didalam diri seorang pemegang amanah, sehingga sebelum menerima amanah kuatkan terlebih dahulu apa yang ada di dalam diri, sudah siap belum untuk ikhlas? Sudah siap belum untuk berlaku adil? 

Karena dalam setiap amanah, akan selalu dihantui dengan yang namanya korupsi. Baik korupsi secara finansial maupun korupsi secara kebijakan. Ada rasa untuk menggampangkan hal yang sangat sepele namun sebenarnya memiliki porsi yang harus diperhatikan. Maka berhati-hatilah dalam menerima suatu amanah, karena amanah itu dapat menaikkan derajat seseorang, dapat pula meluluh lantakkan derajat nama baik seseorang.

Kedua adalah tentang makna dari sebuah prestasi. Yang dimaksudkan disini adalah prestasi tentang adanya upgrade diri, prestasi tentang semakin meningkatnya kualitas dan kompetensi yang ada di dalam diri, itu memang patut untuk disyukuri. Terlebih lagi jika naiknya prestasi tersebut memang sudah menjadi fokus yang sudah lama digelutinya. Pastinya fokus tersebut dapat dikatakan sebagai sebuah prestasi dikarenakan pengalamannya yang sudah mendarah daging ada di dalam diri.

Prestasi juga berkaitan erat dengan pencapaian, contohnya pencapaian dari seorang kader untuk menerima sebuah amanah, itu dapat dikatakan prestasi jika memang kader tersebut dikatakan layak. Kemudian timbul pertanyaan, apa barometer layak bagi seorang kader? Barometernya adalah loyalitas, konsistensi, inovasi, kualitas diri serta keikhlasan dalam menjalankan identitas selama menjadi kader.

Memang selama ini kader seringkali tersepelekan. Kita tidak berfikir jernih dalam memilah-milah, mana kader yang benar-benar ikhlas, mana kader yang hanya muncul ketika butuh. Nampaknya memang permasalahan tersebut hadir dalam seluruh lini organisasi yang ada di negeri ini. Ada kader yang murni, ada kader yang abal-abal. Murni dalam kapasitas paham gerakan, dan abal-abal dalam kapasitas ingin memanfaatkan gerakan.

Sehingga jalur prestasi kader itu sendiri seringkali terlihat samar, pencapaiannya menjadi kurang berarti karena ada yang ingin memanfaatkan, pun juga dikarenakan adanya suatu kepentingan. Maka gerakan yang ada kini nampaknya perlu dikuatkan, dari segi kapasitas gerakan organisasi, ideologi, tujuan, visi-misi, loyalitas, semuanya harus diberikan dan diuji kepada seluruh kader yang kini sudah menjadi seorang pimpinan. Sehingga harapannya semua akan kembali kepada jalurnya, fitrah menjadi seorang kader yang memang layak untuk mencapai amanah, yang juga dapat dikatakan prestasi bagi diri mereka masing-masing.

Yang terakhir adalah, makna dari sebuah kebanggaan. Pencapaian dapat dikatakan mencapai suatu kebanggaan, apabila memang sesuai dengan kapasitas dan amanah yang sudah dijalankan dengan sebaik-baiknya. Amanah terselesaikan dengan baik, tanpa adanya permasalahan moral, itu juga dapat menjadi sebuah kebanggaan. Dikarenakan tuntasnya tanggung jawab yang berakhir secara khusnul khotimah.

Selanjutnya, juga dapat dikatakan sebagai sebuah kebanggaan jika hal tersebut terjadi dalam kapasitas jenjang karier dalam lingkaran bisnis sebuah pekerjaan. Disini yang harus dibedakan, karier bisnis dan pemasrahan amanah birokrasi Pemerintahan adalah dua hal yang sangat berbeda. Karier bisnis lebih sistematis dan terukur, sehingga nampak adanya sebuah progress yang dapat pula dibanggakan, sedangkan amanah birokrasi Pemerintahan banyak aspek yang menyokong dibelakangnya. 

Memang amanah tersebut tidak sarat dengan prestasi saja, namun juga sarat dengan pencapaian dari sebuah siasat. Tidak hanya memiliki satu barometer namun banyak sekali aspek-aspek yang digunakan. Maka belum sah menjadi sebuah kebanggaan mana kala amanah birokrasi itu belum tertuntaskan dengan baik. 

Karena sejatinya aspek ini menanggung seluruh amanah dari banyak orang, termasuk amanah dalam organisasi yang harus diselesaikan secara khusnul khotimah, dengan harapan dapat mencapai prestasi yang bisa dibanggakan dihadapan Allah maupun dihadapan khalayak ramai. Wallahualam bisshawab, Fastabiqulkhoirot!

*Bendahara I PDPM Kota Yogyakarta, Alumnus Prodi PGMI UIN Sunan Kalijaga, Mahasiswa Magister Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta.

Tidak ada komentar