Breaking News

Golput Bukanlah Solusi

pdpmjogja.org - Beberapa wilayah ditanah air akan menyelenggarakan Pemilukada serentak pada 15 Februari 2017 mendatang. Masyarakat akan dihadapkan untuk memilih salah satu pasang calon yang nantinya akan memimpin daerahnya selama 5 tahun kedepan. Ada kandidat yang dinilai baik dan ada pula kandidat yang dinilai kurang baik. Bila semua kandidat yang akan dipilih dinilai sama-sama baik, mungkin masyarakak tidak akan terlalu gelisah untuk memilih dari salah satu. Siapapun yang terpilih nanti tentunya adalah pemimpin baik.


Namun bagaimana kalau semua calon yang maju dalam pemilukada dinilai tidak baik? Tentu akan memunculkan dilema di masyarakat bahwa tidak ada calon yang baik untuk dipilih. 

Lalu Bagaimana? Apakah Boleh Golput? 
Menurut Wakil Ketua PD Pemuda Muhammadiyah Kota Jogja Bidang Dakwah Sholahuddin Zuhri, Golput (golongan putih) atau tidak memilih semuanya bukanlah solusi. Zuhri meminta semua umat muslim untuk tetap menggunakan hak pilihnya dalam pemilukada. Hal tersebut disampaikan disela-sela Kajian Gema Dakwah PC Pemuda Muhammadiyah dan Nasyiatul Aisyiyah Kotagede, Senin (24/10) di Masjid Perak Kotagede.

Misalkan pada pemilukada mendatang ada dua kandidat. Kemudian keduanya memiliki penilaian yang tidak baik, maka Ustadz Zuhri mendorong masyarakat untuk tetap menggunakan hak pilihnya. “Lalu harus memilih siapa? Memilih yang mudharatnya yang paling ringan.” Kata Ustadz Zuhri.

Menurut Ustadz Zuhri ada 5 hal yang perlu diperhatikan dalam memilih. Yang pertama, siapa dari kandidat tersebut yang manfaatnya terhadap kepentingan umat islam lebih besar? Calon yang dipilih harus memiliki keberpihakan kepada kepentingan islam. Misalnya tidak ada, maka ambilah yang tidak merugikan umat islam terlalu besar. Kepentingan islam adalah hal yang paling utama, bukan kepentingan individu maupun golongan. Meskipun mungkin dalam kehidupan sehari-hari agak sulit. Namun setidaknya tidak mengganggu kepentingan agama kita.

Yang Kedua, adalah keberlangsungan hidup. Pemimpin yang dipilih harus yang mampu menjamin keberlangsungan hidup kita. Jangan sampai setelah terpilih malah asal gusur, menindas dan berbuat semena-mena. Mengganggu ketentraman dan kesejahteraan hidup kita.

Yang Ketiga adalah akal, pemimpin yang terpilih harus mampu menjaga akal. Berbuat baik, kebenaran dan tidak merusak moral. Yang Keempat adalah menjaga keturunan. Jangan sampai pemimpin yang terpilih merusak tatanan sosial di daerah kita. Menghimpit pribumi dan menggantinya dengan pendatang. Yang Kelima adalah menjaga harta. Pilihlah pemimpin yang dinilai mampu menjaga harta kita, tidak merampas dan berbuat dzalim. Bila semuanya dinilai memiliki mudharat itu, maka pilihlah yang mudharatnya yang paling ringan. 

Kelima hal tersebut harus urut dan jangan dibolak-balik. Kepentingan agama adalah kepentingan yang paling utama. Siapakah calon yang memberikan manfaat yang lebih besar atau mudharat yang paling sedikit terhadap agama islam.

Kenapa Tidak Golput Saja?
Misalkan ada dua orang yang keduanya merugikan kita. Yang satunya sangat berbuat dzalim. Sedangkan yang satunya bukan orang yang baik, namun mudharatnya lebih sedikit. Tentu kita akan memilih yang mudharatnya lebih sedikit itu. Apakah kita rela apabila dengan kita golput orang yang lebih dzalim menang? Tentunya tidak. Setidaknya kita telah berjuang untuk memilih yang mudharatnya lebih sedikit. “Pilihan yang pahit memang, namun itu lebih baik daripada akan menjadi hal lebih buruk lagi.” pungkas Zuhri.

Tidak ada komentar