Breaking News

Teori Kognitif Sosial Dalam Interaksi Media Sosial

Oleh: Anang Amiruddin Nugroho, S.Pd.I.*

Bagi sebagian orang, berlepas dari gadget adalah sesuatu yang tidak mudah untuk dilakukan. Berawal fungsi gadget sebagai bagian dari kebutuhan tersier, mendekat menjadi kebutuhan sekunder, hingga kini menjadi kebutuhan primer. Perpindahan level yang begitu cepat, mengikuti arus perkembangan globalisasi. 


Realitanya, ketika bangun tidur dipagi hari, awal mula yang dicari adalah gadget, entah untuk melihat waktu sudah masuk pukul berapa, entah untuk mematikan alarm yang berbunyi, atau bahkan sekedar memantau pesan yang masuk, lengkap sekali! Itulah alasan, mengapa gadget bertransformasi menjadi suatu kebutuhan pokok bagi sebagian orang.

Proses transformasi kebutuhan yang dialami oleh gadget, secara tidak langsung memengaruhi gaya hidup. Dunia masyarakat mulai berubah. Semuanya ingin serba cepat, ingin serba instan, ingin pula saling eksis, saling berbagi dan mencari informasi. Barangkali fenomena ini sudah terjadi dalam satu dekade terakhir. Dunia menjadi terbelah, yang satu berbentuk realita, satunya lagi berbentuk imaginer.

Berpengaruh positif? Atau justru menjadi negatif? Jika negatif siapa yang patut disalahkan? Hakikat berkembangnya ilmu pengetahuan adalah bersifat kebermanfaatan, membawa sebuah solusi, dan tanpa pamrih. Semua teknologi adalah untuk memudahkan. Namun ketika ditinjau mengapa banyak reaksi negatif bagi sebagian orang? Maka yang perlu ditanyakan adalah, seberapa insyaf kah orang tersebut tahu kegunaan gadget? Seberapa besarkah cara orang tersebut mempergunakan kewajiban dari gadget yang dimilikinya?

Penggunaan gadget dapat dikatakan latah. Ketika menggema penggunaan chat melalui BBM semuanya berbondong-bondong membelinya, kemudian android mulai masuk dipasaran semuanya juga beralih untuk berganti android. Itulah salah satu sifat manusia, yang dapat dikategorikan sebagai satu pola dalam teori kognitif sosial. Sama halnya jika dibandingkan dengan interaksi komentar akun di dalam facebook ataupun media sosial yang lain. Terlebih jika menyangkut permasalahan politik, semuanya jadi keluar "kepintarannya" masing-masing.

Ada satu media yang berpihak kepada kelompok A, ada juga media yang berpihak kepada kelompok B. Semuanya saling beradu, bertatap-tatapan di kolom komentar dengan segala argumennya. Entah dengan cara memakai akun abal-abal, mengonversi nama akun dengan nama ciri khas agama suku atau ras untuk menyinggung permasalahan sara. Segala cara dilakukan untuk mengubah pola pikir masyarakat yang terlibat. 

Ada yang terpengaruh, adapula yang tidak terpengaruh. Biasanya yang mudah terpengaruh minim sekali mendapatkan informasi dari sumber yang lain, sedangkan yang tidak terpengaruh selain mendapatkan informasi yang berimbang juga memiliki kebijaksanaan berfikir dengan menelaah informasi yang masuk berdasarkan kebijaksanaan agama yang dianut. Peran teori kognitif sosial benar-benar berproses dalam dinamika tersebut. Terbongkar celah pengendalian diri dalam diri seorang manusia. Segala hal yang bersifat dorongan, saling beradu antara argumentasi, idealisme dan kemutlakan sang khalik.

Bagi yang mengetahui hakikat kebenaran mutlak adalah milik sang khalik, maka ini menjadi lahan dakwah. Bagaimana cara menyadarkan seseorang yang telah terjerumus dalam pemikiran yang cenderung sekuler liberal untuk diluruskan dalam satu pemahaman yang sama. Namun bagi yang ingin mempertahankan kesekuleran dan liberalisasi pemikirannya, maka nilai-nilai ketuhanan itu akan senantiasa dikesampingkan, direndahkan serendah-rendahnya dibawah idealisme diri dan tendensi yang diusung.

Gampingan, Wirobrajan, Yogyakarta
Selasa, 17 Muharram 1438H / 18 Oktober 2016

*Penulis adalah Bendahara PDPM Kota Yogyakarta,
Alumnus Prodi PGMI UIN Sunan Kalijaga,
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta.

Tidak ada komentar