Breaking News

Kurikulum Gerakan Kepemudaan


Oleh: Anang Amiruddin Nugroho, S.Pd.I., M.Pd.*

Di usia yang tak lagi muda, meminggul sejarah panjang peradaban bangsa, sejak awal berdiri hingga menjadi bangsa linglung yang terhenyak tak tahu arah. Tepat tanggal 2 Mei 1932, Pemuda Muhammadiyah mengawali kiprahnya sebagai organisasi masyarakat di kalangan pemuda. Segmentasinya jelas, sebagai wadah untuk menampung aspirasi sekaligus inspirasi pemuda-pemuda Islam. Pemuda Muhammadiyah merupakan anak kandung dari Organisasi Persyarikatan Muhammadiyah, dilahirkan dari rahim kolonialisme untuk mengawal jalannya perubahan bangsa yang kini dikekang oleh nadi kapitalisme. Gerakan yang kemudian disebut sebagai organisasi otonom Persyarikatan Muhammadiyah ini, mengusung ciri sebagai gerakan fastabiqulkhoirot, berlomba-lomba dalam kebaikan.


Sepanjang kiprah organisasi, terdapat berbagai jenis dinamika. Dimulai dari perubahan nama organisasi, yang awalnya bernama Padvinder Muhammadiyah, berubah menjadi Hizbul Wathan, kemudian menjadi Siswa Praja Prija, hingga akhirnya bernama Pemuda Muhammadiyah. Dinamika yang hadir dalam tubuh Pemuda Muhammadiyah, menandakan bahwa masih ada denyut kehidupan organisasi dalam rangka tajdid gerakan menuju penyesuaian zaman.  Tajdid gerakan menjadi simbol utama pembeda organisasi dengan organisasi yang lain. Apalagi jika melihat sepak terjang Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah saat ini, banyak dielu-elukan sebagai organisasi yang mampu menampung aspirasi masyarakat sebagai gerakannya kaum musthad’afin.

Konsep yang ditawarkan sungguh menarik, terlebih jika melihat outputnya melalui berbagai media di era media sosial seperti sekarang. Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah benar-benar tampil didepan sebagai advokat umat. Tetapi garangnya konsep yang disuguhkan oleh pusat, justru belum mampu ditafsirkan dengan baik oleh tingkatan pada tataran akar rumput. Masih banyak yang mengeja, bahkan membaca gerakan atau menjelaskan definisi mengenai fastabiqulkhoirot atau Pemuda Muhammadiyah belum begitu fasih. Terlihat dari observasi kecil yang dilakukan Korps Pelatih Tunas PDPM Kota Yogyakarta, melalui fasilitasi Perkaderan Melati Tunas di tingkat Cabang dan Ranting. Mayoritas akar rumput masih sukar untuk membaca gerakan, apalagi pengusungan isu, menjadi hal tabu yang belum layak diperbincangkan.

Pembahasan gerakan yang hadir di cabang dan ranting belum sejalan dengan inisiasi dari pusat. Namun berkat hegemoni pusat akan kuatnya semangat pemberantasan ketidakadilan, memunculkan benih-benih potensi vakum yang sekian lama terkubur menjadi bangkit kembali. Hal ini memang tidak bisa dinafikkan, pengaruh dari pusat begitu terasa hingga menuju ranah akar rumput, akan tetapi penafsiran model gerakan menjadi permasalahan mendasar yang sekiranya perlu disosialisasikan secara bersama-sama. Setiap tingkatan wajib memiliki konsep gerakan dan tujuan gerakan, agar realisasi arahnya jelas, mengetahui definisi gerakan Pemuda Muhammadiyah, tidak bersifat event organizer, namun mampu memberikan output yang luas di masyarakat pada umumnya. 

Sebagai penajam tujuan daripada gerakan, maka kurikulum gerakan saat ini sangat dibutuhkan terutama sebagai penguat langkah. Konsepsi mengenai sistem perkaderan formal dan informal memang sudah ada, namun lambat laun hanya bersifat formalitas untuk mengejar jenjang perkaderan. Hal ini menimbulkan disorientasi gerakan yang seharusnya memiliki upgrade skill disetiap tingkat perkaderan. Sehingga dapat disimpulkan hasil output dari perkaderan formal dan informal belumlah menjamin kualitas kader dan kualitas gerakan terutama di tingkat akar tumput. Banyak kader yang sudah merambah jenjang perkaderan Melati Paripurna atau Baitul Arqam Paripurna, namun kualitasnya tetap saja sama. Belum ada jaminan sistem perkaderan dapat berjalan sejajar dengan kemampuan kader.

Hadirnya kader dalam sebuah gerakan seperti Pemuda Muhammadiyah, wajibnya tidak hanya menjadi organisasi semata, namun sebagai organisasi yang membelajarkan. Disetiap tingkatan rutinitas kajian ataupun kegiatan, sejatinya terdapat kompetensi target dakwah yang diusung. Ada rulenya, ada step by stepnya, dan ada caranya bagaimana membentuk sebuah gerakan. Kader tidak hanya sebagai seorang kader namun juga sebagai peluru yang siap memburu target dakwah untuk mencapai level kompetensi tertentu. Kurikulum gerakan yang ditawarkan nantinya berisi mengenai definisi gerakan, arah gerakan, cara membangun sebuah gerakan, hingga cara memetakan peta gerakan sesuai dengan permasalahan yang dihadapi. Posisi organisasi diibaratkan sebagai kumpulan prajurit, perang dakwah sesuai dengan zamannya, maka tajdid gerakan harus diperjelas kemanakah arah dari pembaharuan yang diusung.

Di usia yang berkepala 8 lebih 5 tahun ini, konsep tersebut sejatinya mampu untuk diejawantahkan, terlebih lagi Pemuda Muhammadiyah merupakan sektor strategis dalam membangun dakwah berkemajuan, mendampingi Persyarikatan Muhammadiyah menyelesaikan persoalan-persoalan umat. Selamat Milad, selamat atas usianya yang kesekian, semoga Allah swt. meridhai apa yang diikhtiarkan untuk umat. Nashrun minallah wa fathun qarib, fastabiqulkhoirot!
*Asisten Dosen Prodi. PGMI UIN Sunan Kalijaga, Mahasiswa Pascasarjana Magister Prodi. Pendidikan Dasar, UNY., Ketua PCPM Wirobrajan 2014-2018, Ketua Korps Pelatih Tunas PDPM Kota Yogyakarta 2016/2017

Tidak ada komentar