Breaking News

Program Gerakan Kebudayaan


BERJAMAAH JAGA KOTA PUSAKA JOGJA :
SEBUAH MODEL GERAKAN KEBUDAYAAN PEMUDA
MUHAMMADIYAH DI PERKOTAAN

Oleh : Ghifari Yuristiadhi (Ketua PDPM Kota Yogyakarta 2014 -2018)

Sejak kelahirannya, Muhammadiyah menjadi organisasi yang urbanized, berkarakter kekotaan. Selainkarena lokasi kelahirannya di perkotaan Jawa (Yogyakarta), orang-orang yang terlibat di dalamnya juga mengusung konsep-konsep yang “melampaui zaman”. Hadirnya polikliniek, armen-huis (rumah miskin) dan weeshuis (rumah yatim) milik Muhammadiyah di bawah bagian PKO pada kurun 1923-1931 adalah hasil karya anak muda Muhammadiyah. Soedjak, Ketua Bagian PKO pertama mendirikan polikliniek di usia 41 tahun (lahir 1882). Sedangkan rekan-rekannya yang lain di bagian PKO berusia di bawahnya. Pada perkembangannya, pada 1932 Hoofdbestuur Muhamamdiyah Bagian Pemuda resmi dilepas menjadi sebuah organisasi yang otonom bernama Pemuda Muhammadiyah. Momentum inilah yang membuka gerbang gerakan anak muda Muhammadiyah (bersama Nasyiatul Aisyiyah yang terbentuk setahun sebelumnya).

Dalam perjalannya, Pemuda Muhammadiyah yang kini berusia 82 tahun telah membentuk struktur kepemimpinan seperti halnya di Muhammadiyah, mulai pusat hingga ranting (meskipun di luar Jawa persebaran ranting Pemuda Muhammadiyah sangat terbatas). Namun patut disayangkan, seiring berjalannya waktu, Pemuda Muhammadiyah seakan kehabisan inisiatif gerakan. Memasuki masa Orde Baru, seiring konstelasi politik yang bergulir, patut disayangkan, Pemuda Muhammadiyah tidak ada bedanya dengan organisasi kepemudaan lain yang mulai tergerus kepentingan politik para elitnya. Tidak sedikit para elit Pemuda Muhammadiyah terutama di tingkat pusat yang hanya menjadikan Pemuda Muhammadiyah sebagai batu loncatan politik. Tidak sedikit setelah menjabat sebagai Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah kemudian menjadi kader partai plat merah, Golkar. Gerusan dan tarikan politik itu semakin kuat sehingga Pemuda Muhammadiyah sering kali tak berdaya dengan politisasi organisasi yang dilakukan para elitnya. Hal tersebut berjalan hingga saat ini dengan varian politisasi organisasi dan partai politik yang dituju oleh para elit Pemuda Muhamamdiyah tersebut. Itulah mengapa hingga Muktamar Pemuda Muhammadiyah ke-XVI di Padang yang lalu, isu politisasi organisasi yang berpangkal dari politik uang (baca: politik tiket yang konon dari elit partai tertentu) masih muncul.

Sebenarnya masih ada pilihan lain dari para pimpinan Pemuda Muhammadiyah di berbagai struktur kepemimpinan untuk mengembalikan spirit gerakan Pemuda Muhammadiyah dibandingkan hanya melulu menjadi batu loncatan politik. Jika merujuk pada tujuan Pemuda Muhammadiyah yakni menghimpun, membina dan menggerakkan potensi pemuda Islam demi terwujudnya kader persyarikatan, kader umat dan kader bangsa dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah, maka seharusnya Pemuda Muhammadiyah bisa bergerak dengan menghadirkan “nalar baru gerakan Pemuda Muhammadiyah”. Nalar baru gerakan itu bisa dibangun dengan mengangkat satu itu spesifik yang cukup dikuasai oleh pimpinan dan menjadi gerakan bersama yang berjejaring. Apa yang ditawarkan Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Periode 2014-2018 dengan mengangkat isu pemberantasan korupsi dengan gerakan #BerjamaahMelawanKorupsi seharusnya bisa menjadi inspirasi. Pemilihan isu tersebut sangat tepat untuk Pemuda Muhammadiyah di tingkat pusat seiring masih cukup tingginya angka korupsi dan terus menghangatnya isu pemberantasan korupsi yang melibatkan banyak instansi di tingkat pusat. Lalu bagaimana dengan gerakan serupa di tingkat daerah?

Seharusnya setiap pimpinan Pemuda Muhammadiyah di tingkat daerah bisa merespon isu-isu yang paling aktual di Kota/Kabupatennya. Isu tersebut dikemas dalam sebuah desain gerakan yang terinternalisasi dalam setiap program kerja masing-masing bidang pimpinan yang ada. Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Kota Yogyakarta Periode 2014¬2018 mencoba mendesain gerakan #BerjamaahJagaKotaPusakaJogja. Gerakan kebudayaan ini mencoba mendengungkan isu-isu di seputar status Kota Pusaka yang melekat pada Kota Yogyakarta sejak 2012 dan status Keistimewaan yang tersemat pada Propinsi D.I. Yogyakarta. Gerakan ini akan mencoba mengawal isu-isu kebijakan publik, tata kota, kebudayaan dan heritage, kehidupan keagamaan masyarakat dan hal-hal lain yang termaktub dalam poin-poin Keistimewaan Yogyakarta dalam UU No, 13 Tahun 2012. Bentuk-bentuk produk gerakan yang akan disajikan antara lain advokasi, diskusi, tulisan ataupun kampanye- kampanye penjagaan benda cagar budaya baik yang tangible ataupun intangible di berbagai media: surat kabar, majalah, televisi, foto, web blog, spanduk, dll.

Implementasi gerakan #BerjamaahJagaKotaPusakaJogja dalam program kerja masing-masing bidang antara lain :
  1. Bidang Tabligh dan Pemikiran Islam, menjaga keislaman kader dan generasi muda Islam di Yogyakarta baik fikriyah dan amaliyah sebagai representasi budaya religius yang menjadi roh keistimewaan Yogyakarta.
  2. Bidang Kader dan Pengembangan Cabang, Ranting dan Remaja Masjid, membangun kesadaran kader baik di cabang, ranting maupun remaja masjid mempunyai kapasitas pengetahuan yang cukup atas kebudayaan baik tangible maupun intangible di Yogyakarta. Diharapkan dengan pengetahuan yang dimiliki, seorang kader mempunyai rasa memiliki dan cinta atas kotanya dan bisa memberi masukan yang dianggap perlu untuk kemajuan kotanya.
  3. Bidang Seni, Budaya, Pariwisata dan Olahraga, menyelenggarakan event berbasis budaya Islam yang menjadi “budaya tanding” dari event kebudayaan yang terlanjur tercerabut dari keislaman yang menjadi core dari kebudayaan di wilayah Kasultanan Yogyakarta dan dibalut sebagai event pariwisata tahunan di Yogyakarta.
  4. Bidang Hikmah, Kebijakan Publik dan Hubungan antar Lembaga, membangun komunikasi yang balk dan produktif dengan stake holder kebudayaan dan keistimewaan Yogyakarta sehingga tetap bida memberikan kontribusi pemikiran maupun partisipasi yang utuh dari Pemuda Muhammadiyah Kota Yogyakarta dalam rangka mengawal wacana-wacana kebudayaan di birokrasi pemerintahan.
  5. Bidang Ekonomi, Kewirausahaan dan Pelayanan Masyarakat, menggerakkan kegiatan kewirausahaan yang menjadi ciri masyarakat Islam di Yogyakarta sejak awal abad XX sehingga dapat memberdayakan kader maupun masyarakat sekitar. Diharapkan dengan berjalannya kegiatan ekonomi kader berbasis cabang dan daerah dapat menjadikan kader sebagai warga Jogja Istimewa yang mandiri dan gagah menyambut Masyarakat Ekonomi ASEAN dengan gagah. Selain itu secara kontinyu juga menyelenggarakan kegiatan- kegiatan pelayanan yang “inklusif” kepada komunitas-komunitas yang selama ini belum terlalu tersentuh dakwah persyarikatan Muhammadiyah maupun Pemuda Muhammadiyah.
  6. Bidang KOKAM dan SAR, membangun jiwa kepedulian dan empati atas musibah yang menimpa orang lain, yang juga menjadi bagian dari kebudayaan luhur Jawa, pada diri kader Pemuda Muhammadiyah sehingga selalu siap sedia terjun dalam kedaruratan dan kebencanaan.
  7. Bidang Organisasi dan Keanggotaan yang selalu membangun data base potensi kader baik di cabang maupun di daerah dalam rangka mengadakan pemetaan yang dibutuhkan untuk menjalankan program-program bidang lain dalam Pemuda Muhammadiyah.
Sejak digulirkannya konsep Dakwah Kultural pada Tanwir di Bali tahun 2002 silam, sebagian warga persyarikatan Muhammadiyah gundah dan mulai dirundung ketakutan. Apakah Muhammadiyah harus kembali menelan ludahnya sendiri dengan mengakomodir ekspresi-ekspresi kebudayaan yang sering kali dikatakan warganya sebagai bentuk Tahayul, Bid'ah dan Churofat (TBC). Namun, seruan dakwah kultural tersebut tampak disambut dengan baik oleh pimpinan persyarikatan Muhammadiyah di daerah dengan menggelar berbagai event kebudayaan yang tetap berdimensi dakwah keislaman, seperti pentas kesenian, wayang, ketoprak bahkan teater. Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Kota Yogyakarta juga harus mengambil peran dalam Dakwah Kultural ini dengan gerakan kebudayaan #BerjamaahJagaKotaPusakaJogja yang akan diusungnya dalam periode ini. Jika benar-benar berjalan dengan baik, model gerakan Pemuda Muhammadiyah ini bisa menjadi inspirasi Pemuda Muhammadiyah di daerah lain untuk mencoba membuat gerakan dengan satu concern issue sesuai dengan yang berkembang di Kota / Kabupatennya masing- masing. Hal ini diharapkan dapat memecah kebekuan gerakan Pemuda Muhammadiyah yang selama ini (mungkin) hanya menjadi event organizer yang menyelenggarakan satu acara ke acara yang lain tanpa sebuah korelasi dan kesinambungan yang terukur.

Fastabiqul khairaat.

Tidak ada komentar